| Rapat Koordinasi ICRC dan PMI DIY, Diserang Virus WIB |
|
|
|
| Ditulis oleh kominfo | |
| Sabtu, 13 November 2010 | |
|
Salah satu pelayanan utama yang diberikan oleh posko PB Letusan Gn. Merapi PMI Kota Yogyakarta adalah mempertemukan keluarga yang terpisah atau dikenal dengan RFL (Restoring Family Link). Layanan ini adalah layanan yang penting mengingat banyak keluarga korban Merapi yang terpisah saat proses evakuasi dari atau ke posko-posko pengungsian di zona aman. Banyak juga saudara-saudara yang berada di luar lokasi bencana ingin mengetahui keadaan saudaranya. Mengingat pentingnya layanan ini, hari ini seluruh PMI mengadakan rapat koordinasi dengan ICRC Jakarta di markas PMI DIY. Tidak ketinggalan, rombongan dari PMI Kota Yogyakarta yang terdiri dari Kamakot, Mukhsinun S.H.I. dan koordinator RFL, Ahmad Supiansyah, siap mengikuti rapat. Pukul 15.08 rombongan PMI Kota telah sampai di PMI DIY. Menurut undangan, rapat akan dimulai pukul 15.00. Sesampainya disana, telah ada perwakilan dari PMI Kabupaten Gunung Kidul, Iyxda D.H. Tak berapa lama berselang, rombongan dari PMI Kabupaten Sleman datang yang diwakili oleh Luluk dan Gilang.
Sampai pukul 17.00, ternyata perwakilan ICRC, Mbak Ria, belum juga datang. “Cepatlah, urusan dan tugas kita masih banyak”, gumam salah satu peserta rapat di waktu menunggu perwakilan ICRC. Akhirnya Bapak Mukhsinun menghubungi perwakilan ICRC untuk memperjelas jadi tidaknya rapat koordinasi. Ternyata perwakilan dari ICRC baru akan meluncur ke lokasi. Dengan sabar kami menunggu. Setelah dibiarkan 2 jam menunggu, akhirnya pukul 17.24 beliau datang juga. Ternyata budaya WIB alias Waktu Indonesia Bisa berubah -telat- juga menyerang ICRC. Kemudian perwakilan ICRC melakukan koordinasi dengan PMI DIY terlebih dahulu. Baru pukul 17.40 rapat dimulai dengan ditemani 3 orang dari PMI DIY.
Rapat dimulai dengan penggambaran secara umum kondisi perkembangan RFL yang dilakukan oleh masing-masing posko. Kemudian dilanjutkan dengan arahan dari mbak Ria. “ Disini, kami katakan bahwa ICRC hanya sebagai technical advisor, kita tidak menjadi pelaksana, kita hanya akan mensupport kegiatan RFL”, kata mbak Ria. Beliau melanjutkan bahwa besok akan datang tambahan team RFL dari PMI Kabupaten Bandung berjumlah sekitar 5 orang. Team ini hanya akan membantu setting system dari RFL.
Selanjutnya rapat kali ini membahas mengenai mekanisme RFL, pendanaan, serta kendala-kendala yang ditemui di lapangan. Kebanyakan team RFL mengeluhkan kekurangan form-form yang digunakan dalam RFL, kamera, serta kebutuhan pendirian posko RFL di titik-titik pengungsian. ICRC berjanji akan menanggung seluruh pendanaan untuk kegiatan RFL serta mengusahakan pengadaan peralatan yang dibutuhkan untuk memperlancar pelayanan RFL. PMI Daerah Istimewa Yogyakarta berpesan agar semua team RFL selalu berkomunikasi satu sama lain untuk mempermudah pencarian dan tidak lupa untuk berkoordinasi dengan PMI Magelang dan PMI Jawa Tengah mengingat telah banyak pengungsi dari Magelang dan Klaten yang memasuki wilayah Yogyakarta maupun sebaliknya. Akhirnya rapat selesai pada pukul 19.00. Diputuskan bahwa Agus Widinugroho dari PMI DIY sebagai koordinator RFL, bila ada informasi yang berhungan dengan RFL yang ingin disampaikan ke ICRC, bisa menghubungi Bapak Agus, untuk kemudian diteruskan ke ICRC. <@Sieth@> |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
Yogya Emergency Service
Telpon : 118 / 420118
Sumbangan Dana Anda Untuk Bencana
BRI Cabang Katamso
rek: 0245-01-031609-50-4
an : Rekening PMI Untuk Bencana