PMI Cabang Kota Yogyakarta

Saturday
May 19th
  • Login
  • Sign up
    Pendaftaran
    Kolom yang bertandakan bintang (*) haruslah diisi.
    Nama: *
    Nama pengguna: *
    E-mail: *
    Kata sandi: *
    Verifikasi kata sandi: *
  • Search
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME
65 tahun PMI Kota Yogyakarta PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh kominfo   
Kamis, 30 September 2010

 Image

29 September 2010, merupakan hari bersejarah bagi PMI Kota Yogyakarta, karena bertepatan dengan tanggal tersebut merupakan hari berdirinya organisasi PMI di Kota Yogyakarta, lebih tepatnya 12 hari setelah PMI Pusat di dirikan di Jakarta atau pada tanggal 17 September 1945. Lahirnya PMI Cabang Yogyakarta tidak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, karena pada dasarnya palang merah ada di Indonesia karena banyaknya korban akibat perang melawan Belandan maupun Jepang.

Beberapa dokter yang berada di Yogyakarta mengikuti jejak rekan-rekannya yang tinggal di Jakarta untuk membentuk PMI cabang Yogyakarta pada tanggal 29 September 1945. Rapat pembentukan PMI cabang Yogyakarta diadakan di gedung bekas Badan Pertolongan Keluarga Korban Perang (BPKKP). Ketua PMI cabang Yogyakarta pertama dijabat oleh dr. Soekiman Wirjosandjojo, sedang markas PMI cabang Yogyakarta menempati lokasi gedung di jalan Secodiningrat (sekarang jalan Panembahan Senopati, tepatnya disebelah timur benteng Vredeburg). Lokasi gedung tersebut ada di sebelah utara jalan, disinilah PMI Cabang Yogyakarta menjalankan tugasnya sehari-hari. Dan ketika Markas pindah ke Yogyakarta, PMI Cabang Yogyakarta tetap menjalankan tugasnya sehari-hari tanpa meleburkan diri dengan PMI Pusat.

 

Kegiatan-kegiatan PMI Cabang Yogyakarta pada awal terbentuknya

 

PMI sebagai badan sosial yang bergerak untuk memeberi bantuan kepada sesama, dibentuk untuk memenuhi salah satu tuntutan kebutuhan pada waktu itu selain menghadapi pertempuran-pertempuran yang berlangsung, penanganan bagi korban yang terlantar dan yang terpisah dari keluarga juga merupakan bagian kegiatan dari PMI.

 

Perkembangan awal PMI cabang Yogyakarta juga tidak lepas dari situasi politik pada saat itu, karena ia harus berperan dalam dua situasi yang berbeda. Pertama pada masa perang, PMI harus bekerja menolong korban pertempuran; kedua pada masa damai, disini PMI harus bekerja dengan ekstra keras mengembalikan tawanan, mengurusi pengungsi dan menyelenggarakan berita keluarga.

 

Peristiwa pertama yang mendorong PMI Cabang Yogyakarta untuk mulai aktif bergerak dalam memberikan pertolongan korban perang adalah peristiwa Kota Baru. Peristiwa ini pula yang menjadi pendorong kuat untuk menghimpun tenaga-tenaga sukarela PMI. Pada saat pertempuran Kota Baru, PMI Cabang Yogyakarta ikut berpartisipasi dalam menolong korban perang di daerah pertempuran, walau dengan perlengkapan dan cara yang sederhana mereka membantu para korban perang dengan dasar rasa sukarela di pos PMI, atau kalau ada korban yang luka parah langsung dilarikan ke RS Petronella (sekarang RS Bethesda) Yogyakarta. Di dalam bertugas mereka tidak pernah membedakan antara para pejuang Indonesia dengan pihak musuh.

 

Seperti telah dikemukakan diatas PMI selain berperan dalam situasi perang, PMI bergerak aktif dalam situasi damai. Peran PMI dalam situasi ini adalah pada masalah pengungsian, tawanan perang, menyelenggarakan dapur umum, dan mengusahakan penyampaian berita keluarga yang terpisah satu dengan yang lainnya.

 

Dalam masalah pengungsian, PMI cabang Yogyakarta memeberikan bantuan dengan menyediakan penginapan sementara dan makanan seadanya bagi mereka penduduk sipil yang tidak ikut berperang dan mengalami nasib buruk di mana daerah mereka dijadikan sasaran pertempuran, sehingga dengan terpaksa mereka mengungsi ke daerah lain yang lebih aman, tetapi mereka tidak mempunyai teman atau saudara di Yogyakarta. Pada bulan Mei 1949 pekerjaan tersebut kemudian dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah bagian sosial “Pararto Prodjo”.

 

Dalam hal mengawasi  tawanan perang, PMI memberikan bantuan berupa perlindungan dan memulangkan tawanan perang. Seperti telah diungkapkan, dengan kekalahan Jepang di perang dunia kedua maka kedudukan tentara Jepang di Indonesia adalah tawanan perang sekutu, dan dalam masalah ini Indonesia merupakan perantara antara Jepang dan sekutu, yang mana pada akhirnya sekutu akan mengembalikan tawanan Jepang tersebut ke negaranya. Selain membantu memulangkan bekas tawanan Jepang dan Belanda, PMI juga membantu menjaga kesehatan mereka selama masih di kamp-kamp tawanan yang waktu itu ditampung ditempat-tempat bekas pabrik gula di daerah Ganjuran, Bantul, maupun dalam perjalanan. Setiap rombongan yang berangkat ke Jakarta di sertai 2 orang dokter dan juru rawat dari PMI.

 

Demikian seklumit sejarah awal berdirinya Palang Merah Indonesia di Yogyakarta, yang juga merupakan embrio lahirnya palang merah di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta seperti magelang, muntilan, bantul, sleman dan lainnya. *Adib

Terakhir diperbaharui ( Kamis, 30 September 2010 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

BALAI PENGOBATAN

Pelayanan Poli Umum dan Gigi

PMI Cabang Kota Yogyakarta

Buka :  tiap hari kerja
pukul 08.00 s.d 16.00 WIB

(Minggu/HariBesar tutup)

Mitra kami

       

                  

 

Advertisement

YES 118

Yogya Emergency Service

Telpon : 118 / 420118

REKENING BENCANA

Sumbangan Dana Anda Untuk Bencana

BRI Cabang Katamso

rek: 0245-01-031609-50-4

an : Rekening PMI Untuk Bencana